Detik-detik melahirkan

Tgl. 1 April 2014, pukul. 08.00 aku dan Erik sudah berada di RS Delta Surya Sidoarjo. Setelah mendaftar, akupun segera menuju ke ruang bersalin. Disana aku di taruh disebuah kamar. Aku mulai dipasang infus dan diambil darahnya untuk keperluan beberapa test menjelang operasi. Perawat memberitahu kalau operasi akan dilaksanakan pukul. 12.00 nanti dan aku pun disuruh puasa selama 6jam sebelum operasi. Pukul. 11.00 perawat datang untuk memasang kateter urine disaluran kencingku. Kateter itu berupa selang yang nantinya akan menampung air kencingku. Jadi aku tidak perlu ke kamar mandi lagi untuk kencing. Proses pemasangan kateter seh tidak sakit. tapi begitu udah terpasang.. hhhmm… rasanya benar-benar menyiksa. tidak bisa digambarkan bagaimana rasa tersiksanya. yang jelas benar-benar gak nyaman banget. Rasanya hampir mirip seperti anyang2en gitu lah.. Andaikan boleh gak pake kateter, aku malah lebih milih pipis di kamar mandi aja.. hiks…😥

Pukul. 11.00 ibuku datang untuk menemaniku. Ibuku terlihat begitu tegang, padahal aku yang mau menjalani operasi malah santai-santai aja. Malahan masih sempat-sempatnya otak atik facebook di hpku. hehehe..😀
Waktu terus berjalan… Udah pukul.12.00 tapi perawat tak kunjung datang untuk menjemputku, pukul. 13.00 juga udah terlewati hingga akhirnya pukul. 13.30 perawat menjemputku untuk menuju ke ruang operasi.

Hatiku rasanya dag dig dug gak karuan. Pikiran kosong tapi dalam hati tak henti-hentinya aku berdoa. Tak lupa sebelum memasuki ruang operasi, aku meminta doa pada ibuku dan Erik. Semoga dilancarkan segalanya.. Amiin..

Memasuki ruang operasi, aku segera diberikan obat bius. Obat bius yang disuntikkan ke punggung. Sakitnya gak seberapa jika sambil membayangkan hadirnya sosok bayi mungil yang keluar dari rahimku nanti. Obat bius yang digunakan adalah bius lokal. Jadi yang dibius hanya bagian pinggang kebawah. Bagian pinggang ke atas masih sadar. Jadi aku masih bisa melihat dan mendengar apa yang dikatakan oleh dokter dan perawat-perawat disana.

Proses operasi berjalan sangat singkat. Setelah obat bius bereaksi, dokter tak perlu menunggu lama untuk segera melakukan operasi. Hingga akhirnya pukul. 13.57 terdengarlah suara bayi menangis yang sangat keras sekali. Rasanya ingin menangis tapi entah mengapa air mata tak bisa keluar. Dalam bibirku hanya keluar 1 kata, ALHAMDULILLAH…
Sempat terdengar suara perawat yang mengatakan bahwa bayiku seorang perempuan dan terlilit tali pusar hingga 2 lilitan, entah bagian tubuh mana yang terlilit, aku tak terpikir untuk bertanya. Yang penting, bayiku lahir dengan selamat dan sehat. Alhamdulillah Ya Allah..

Sebelum bayi dibersihkan, perawat sempat menunjukkan bayinya sebentar padaku dan aku sempat mencium pipinya.. Subhanallah.. Lengkaplah hidupku sekarang. Aku sudah menjadi seorang ibu. Walaupun aku tidak melahirkan secara normal, tapi operasi caesar pun juga butuh perjuangan menahan sakit pasca operasinya nanti. Aku tak peduli apa kata orang diluar sana yang memandang sebelah mata kalau aku memilih jalan operasi daripada normal walaupun memang masih ada peluang bagiku untuk lahiran normal. Mereka hanya tidak tau bagaimana rasanya penantian begitu lamanya kehadiran bayi ini. 4 tahun lebih aku menunggu amanah dari Allah akan hadirnya sosok mungil dari rahimku ini. Mangkanya aku dan Erik pun memutuskan jalan operasi yang resikonya bisa dibilang lebih kecil daripada lahiran normal. Memang kalau masalah pemulihan dan penyembuhan, operasi memakan waktu lebih lama daripada normal. Tapi itu gak jadi masalah bagiku. Aku bisa bersabar menantikan hadirnya malaikat kecil ini, jadi lamanya pemulihan pasca operasi rasanya gak ada apa-apanya..

Pasca operasi, aku harus menunggu sekitar 3-4jam di ruang pemulihan. Para perawat menyuruhku tidur sambil menunggu perkembangan tubuhku pasca operasi. Mata rasanya ngantuk banget, tapi entah mengapa aku tidak bisa tidur. Aku masih membayangkan bagaimana anakku.. mirip siapa dia.. apa dia sehat..apakah semuanya normal?

Perlahan reaksi bius mulai menghilang. Kaki mulai kerasa kesemutan walaupun masih berat untuk digerakkan. Perawat sempat beberapa kali mengecek pendarahan dan kontraksi rahimku. Katanya pendarahanku banyak banget. Tensi darahku juga sempat ngedrop. Hingga perawat pun beberapa kali melakukan pijatan di perutku yang rasanya aduhai sakitnya..

Alhamdulillah sekitar 4 jam berada di ruang pemulihan, akhirnya aku boleh di pindah di ruang perawatan, yaitu kamar Flamboyan. Sesaat ketika aku keluar dari ruang pemulihan, sudah ada ibuku dan Erik yang menyambutku. Ibuku langsung mencium pipiku sambil mengucapkan selamat dan mengatakan bahwa rambut anakku tebal. Erik pun langsung memegang tanganku, entah berkata apa dia saat itu aku lupa. hehehe..😀

Rasanya aku ingin sekali bertemu anakku lagi.. Saat aku menciumnya di ruang operasi, aku masih belum melihatnya dengan jelas. Sayangnya, bayinya ditaruh di ruang bayi. Aku baru bisa bertemu besok pukul. 08.00 sampai pukul. 12.00 . Bayinya akan di antar ke kamarku. Gak apa-apalah.. Yang penting, kata Erik bayinya sehat, semua anggota badannya lengkap dan normal. Alhamdulillah Ya Allah…

menjelang operasi masih sempatnya poto2 ^^

menjelang operasi masih sempatnya poto2 ^^

2 thoughts on “Detik-detik melahirkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s