Happy Pregnancy (I) ^^

Saking senengnya bisa ngerasain jadi bumil (ibu hamil). Aku jadi pingin banyak cerita niy tentang pengalaman kehamilanku. Seru dan senengnya jadi bumil, walaupun terkadang ada juga rasa ga nyaman yg dirasakan, terutama dari kondisi fisik yang mengalami banyak perubahan. Tapi semuanya patut untuk disyukuri. Moga aja dengan ceritaku ini bisa jadi inspirasi buat para bumil2 lain 

Trimester Pertama (1-3 bulan)
Inilah trimester terberat yang aku rasakan. Saat menjalani trimester pertama ini, kondisiku masih bekerja di Bangil yang jaraknya cukup jauh dari rumahku (perjalanan kurang lebih 30-45menit) dan aku melaluinya dengan naik motor sendiri dengan kondisi jalanan yang sangat jelek. Tapi Alhamdulillah, Erik masih mau mengantarkan aku kerja selama dia bisa mengantarkan. Bener2 suami siaga..😀

Ketika mengetahui dari tespack kalau aku positif hamil, saat itu pula aku langsung datang ke dokter untuk USG. Sempat bingung aku harus ke dokter siapa (maklum, dokter kandungan di Pasuruan sangat langkah sekali). Kebetulan ada teman kerjaku yang juga lagi hamil. Akupun meminta pendapatnya. Dia menyarankan aku untuk datang ke dokter langganannya (sebut aja dokter A). Malam hari sepulang kerja, aku langsung datang ke tempat praktek dr. A, tentunya dengan ditemani Erik. Dag dig dug rasanya hatiku saat itu..

Berhubung dokter kandungan memang sangat langkah, antriannya pun gak heran kalau panjaaangg banget.. Setelah menunggu kurang lebih hampir 3jam. Tibalah saatnya giliranku periksa dan dr. A pun mulai melakukan usg. Begini lah percakapanku dengan dr. A :
• Dr A : Ibu sudah melakukan tespack?
• Aku : sudah, dok..
• Dr. A : hasilnya apa bu?
• Aku : muncul 2 garis dok,, positif,,
• Dr. A : Hhhmm,, kok di usg belum kelihatan kantong rahimnya ya bu..
• Aku : tapi saya sudah tespack sampe 3x lho dok.. positif terus..
• Dr. A : Begini saja.. saya kasih surat pengantar buat ke laboratorium ya bu,, coba ibu test lagi disana, apa benar2 positif
• Aku : Iya dok.. (dalam hati berkata, ini dokter kok kayaknya gak percaya banget ya kalau memang hasilnya positif)
Kemudian, akupun segera pergi ke laboratorium itu.. Tidak lama sekitar 15menit sudah muncul hasilnya dan memang dinyatakan benar-benar positif. Akupun segera kembali lagi ke Dr. A dan terjadilah percakapan lagi sbb :
• Aku : Dok,, ini hasilnya..
• Dr. A : hhmm,, iya,, benar positif ya,, tapi kok di usg belum keliatan kantong rahimnya ya.. jangan-jangan hamil di luar kandungan

Bagai disambar petir rasanya mendengar ucapan dokter itu. Naudzubillah.. jangan sampai dugaan dr. A itu benar. Hati campur aduk rasanya antara sedih dan sebel juga sama dokter itu. Kok bisa-bisanya langsung memvonis seperti itu sampai bikin hatiku drop.

Sesampai di rumah, aku langsung menangis. Ya Allah.. sudah begitu lama aku tidak melihat penampakan 2 garis di tespackku, tapi kenapa begitu muncul 2 garis itu, ada vonis menyeramkan seperti ini. Semalaman aku menangis, Erik mencoba menghibur dan memelukku, serta meyakinkanku kalau dr. A itu manusia biasa yang bisa juga berbuat salah. Memang benar kata Erik, tapi aku tidak menggubrisnya. Aku hanya bisa menangis, menangis, dan menangis. Hingga akhirnya Erikpun berkata,” aku lho gak percaya sama dr. A. Lihat aja alat usg nya tadi udah tua kayak orangnya (dr. A memang agak tua, mungkin umurnya sudah 50th ke atas). Aku baru percaya kalau kita coba periksa ke dokter lain. Apa perlu besok kita ke Sidoarjo aja? Dokter di Sidoarjo kan bagus-bagus, alat usgnya juga lebih terpercaya.”

Dari perkataan Erik tadi, aku langsung terdiam dan berpikir, mungkin benar apa kata Erik dan semoga memang benar. Lantas akupun berkata,”ya udah Erik.. besok kita coba datang ke dokter lain. Tapi kayaknya gak mungkin kalau besok kita ke Sidoarjo soalnya besok kan aku kerja dan aku belum dapat hak cuti. Besok kita periksa ke dr. Wayan aja.. (salah satu dokter lain di Pasuruan yang umurnya lebih muda. Mungkin sekitar 35-40th).”

Keesokan harinya, aku periksa ke dr.wayan dan sekali lagi harus melalui antrian panjang, tapi sore hari Erik sudah aku suruh daftar. Jadi malamnya aku baru datang ke tempat prakteknya. Sehingga aku gak perlu menunggu terlalu lama. Sekitar 1jam aku menunggu, mulutku tak henti-hentinya berdoa meminta yang terbaik pada Allah dan berharap bahwa vonis dr.A itu memang salah. Akhirnya tiba giliranku periksa, dr. Wayan mulai melakukan usg.. Alhamdulillah ya Allah.. ternyata di monitor usg nya dr. Wayan nampak ada bulatan kecil, yakni kantong rahim yang menunjukkan kalau aku benar-benar hamil dan tentunya tidak diluar kandungan seperti kata dr.A. Tak henti-hentinya aku berucap syukur pada Allah. Ternyata vonis dr.A memang salah. Alhamdulillah…

Dr. Wayan pun berkata kalau memang kantong rahimnya masih sangat kecil. Saat itu perkiraan usia kehamilannya masih sekitar 5minggu. Aku pun diberi vitamin dan obat penguat oleh dr.Wayan dan disuruh control 2 minggu lagi.
Saat trimester pertama inilah saat-saat paling mendebarkan dalam hidupku. Maklum, aku masih trauma jika mengingat keguguranku dulu disaat masih trimester pertama. Aku takut kejadian itu terulang kembali. Tapi Bismillah,, aku pasrahkan semua pada Allah. Semoga kejadian kelam itu tidak terulang kembali. Amiin… Oh ya, saking takutnya keguguran karena BO lagi, aku pun sempat bernazar kalau aku ingin datang ke Panti Asuhan dan memberikan santunan padanya secara langsung. Semoga Allah menerima nazarku ini. Amin..

Minggu demi minggu ditrimester pertama aku lalui. Tiap hari (apalagi saat jadwal control), aku tidak pernah berhenti berdoa. Trimester pertama aku lewati dengan cukup berat karena pekerjaanku menuntut banyak padaku. Tuntutan tenaga dan waktu. Pulang kerja selalu larut malam dan saat libur pun masih aja ada kerjaan marketingan, sehingga fisik sempat drop. Hampir 1 bulan aku menderita flu berat. Pilek dan batuk parah hingga suaraku sempat habis, ditambah berat badanku juga turun 2kg karena setiap hari aku selalu muntah-muntah. Mau minum obat juga bingung minum obat apa. Bumil kan gak boleh minum obat sembarangan ya.. Awalnya tidak aku gubris penyakitku ini, aku berpikir mungkin bisa sembuh sendiri. Aku hanya sering minum air putih hangat aja. Hingga akhirnya suatu malam, aku tergolek lemas tak berdaya. Badanku terasa hangat, muka pucat, dan pusingnya minta ampun. Erik pun sempat bingung mau membawaku ke dokter mana. Akhirnya, akupun meminta anterin ke bidan dekat rumah aja. Di bidan, aku sempat diperiksa dan bidan pun lebih memfokuskan kondisi badanku yang drop ini, sehingga bidan pun menawarkan suntikan agar kondisiku cepat membaik. Saat itu aku langsung meng-iya-i. padahal biasanya aku paling takut dengan jarum suntik. Tapi aku berpikir kalau aku harus membuang jauh-jauh ketakutanku ini demi aku dan janin dalam kandunganku. Alhamdulillah, keesokan harinya keadaanku membaik walaupun batuk dan suaraku msh serak-serak sexy. Hehehe…😀

Di akhir trimester pertama ini, aku semakin gak kuat untuk bekerja. Pasalnya ada aturan baru di tempat kerjaku, peraturan yang benar-benar “menyiksa” karyawannya. Kondisi perusahaan saat itu memang lagi menurun sehingga karyawannya di wajibkan tiap sore hari melakukan kegiatan marketingan. Belum lagi tiap hari sabtu dan minggu juga ada marketingan. Lha terus kapan aku istirahatnya?? Sempat ada rasa amarah pada perusahaan tempatku bekerja. Kok tega sekali ya ada aturan seperti ini dan karyawannya pun diwajibkan melakukan kegiatan itu dengan dasar “loyalitas”. Tau kan makna dari loyalitas?? Yupp,, bener banget,, artinya melakukannya dengan sukarela alias gretongan gitu.. jadinya karyawan tidak diberi upah apa2 untuk melakukan marketingan itu.. kalau hari sabtu atau minggu kadang diberi makan doank.. maaf ya.. kalau untuk makan aja, aku juga bisa beli sendiri. Wong gak nyampe Rp.10.000 ae lho…

Sempat ada beberapa karyawan yang protes dengan aturan baru ini, tapi pimpinan meyakinkan kalau aturan ini hanya berlaku untuk 1 bulan saja, selanjutnya akan dihapuskan. Oke lah.. aku mencoba menjalani aturan baru ini dan menguatkan diriku dan janin dalam kandunganku. Jika rasa lelah datang, aku selalu berkata pada diri sendiri,” tenang lia.. harus kuat.. Cuma 1 bulan aja kok..”

Tak terasa 1 bulan berlalu dan ternyata perkataan pimpinan omong kosong belaka. Aturan itu tetap berjalan. Saat itu lah, amarahku langsung meledak-ledak rasanya. Aku pun bertekat untuk mengundurkan diri dari perusahaan gak beres itu. Erik pun mendukung niatku karena kasihan melihat kondisiku yang memang kayak “kerja rodi” itu. Apalagi aku juga lagi hamil. Aku dan Erik gak mau sampai terjadi hal buruk pada janin dalam kandunganku. Udah 3 tahun lebih kami menantikan kehamilan ini. Kami gak mau kejadian buruk menimpah kehamilanku lagi. Naudzubillah…

Alhamdulillah… trimester pertama berakhir bersamaan dengan pengajuan surat pengunduran diriku. Untuk sementara, aku diungsikan Erik ke rumah orang tuaku di Sidoarjo demi ketenangan hatiku dan memfokuskan diri pada kehamilanku. Sehat-sehat terus ya, nak… 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s