Surabaya nich, hangout yuk =)

Surabaya adalah ibukota provinsi Jawa Timur yang sekaligus kota kedua terbesar di Indonesia setelah Jakarta.  Surabaya terkenal dengan sebutan Kota Pahlawan karena sejarahnya yang sangat diperhitungkan dalam perjuangan merebut kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajah. Kata Surabaya konon berasal dari cerita mitos pertempuran antara sura (ikan hiu) dan baya (buaya) dan akhirnya menjadi kota Surabaya.

Jarak kota Surabaya dengan Sidoarjo cukup dekat. Perjalanan bisa ditempuh dalam 30 menit hingga 1 jam, bahkan bisa 2 jam jika terjebak dalam kemacetan. Ya, Surabaya memang hampir tak ada bedanya dengan Jakarta, sama-sama macetnya, apalagi kalau pas malam minggu, dijamin kalian lama berada di jalanan.

Karena jarak Surabaya cukup dekat dengan Sidoarjo, aku pun sering main ke Surabaya. Dulu sebelum aku pindah ke Pasuruan, hampir setiap seminggu sekali aku pergi ke Surabaya untuk hangout, shopping, dan refreshing dengan teman-temanku ataupun dengan Erik. Aku lebih suka jalan-jalan di Surabaya daripada di Sidoarjo soalnya pusat perbelanjaan di Surabaya itu banyak banget.  Kita tinggal memilih, minggu ini mau ke manna, minggu depan mau kemana, minggu depan lagi mau kemana, tak ada habis-habisnya deh.

Berhubung di Sidoarjo tidak ada bioskopnya, aku pun selalu datang ke Surabaya untuk nonton film. Biasanya kalau nontonnya hari Sabtu atau Minggu, aku lebih suka nonton di Tunjungan Plaza XXI soalnya kalau membeli tiket dengan menggunakan visa BCA bisa mendapatkan promo buy 1 get 1. Asyik… hehe..😀

Meskipun aku sering pergi ke Surabaya, tapi bukan berarti aku sudah mendatangi seluruh pusat-pusat perbelanjaan di Surabaya lho. Ada beberapa tempat yang belum sempat aku kunjungi, seperti Lanmarc, Ciputra world, Pusat Grosir Surabaya (PGS), Golden City Mall, dan masih banyak lagi.

Pusat perbelanjaan yang sudah pernah aku datangi juga tak kalah banyaknya. Sebut saja, CITO, Royal Plasa, SUTOS, Delta Plaza, Galaxy Mall, TP, Grand City Mall, PTC, Supermall, ITC, Pasar Atum, dan lain-lain.

Penduduk di Surabaya memang sangatlah banyak, jadi wajar kalau dimana-mana terasa begitu padat. Walaupun begitu, aku semakin sering merindukan suasana kota Surabaya sejak tinggal di Pasuruan. Keramaian kota Surabaya itulah yang membuat hidupku lebih berwarna. hehe..😀

Suku Jawa adalah suku bangsa mayoritas di Surabaya. Bahasanya menggunakan bahasa Jawa pula, atau lebih dikenal dengan Boso Suroboyoan. Dialek ini terkesan lebih kasar didengar daripada bahasa Jawa pada umumnya yang begitu lembut. Tapi memang begini lah Surabaya, orang-orangnya lebih suka ngomong blak-blakan dan sudah menjadi ciri khas disini. Jadi jangan kaget dan jangan dibawa kehati kalau lagi ngomong dengan orang Surabaya asli. Dulu, aku pernah punya teman sekantor yang merupakan orang Surabaya asli. Kaget banget waktu mendengar dia ngomongnya kasar, blak-blakan, dan kadang kalau mencela orang kayak tidak punya hati. Aku pun pernah dibuat sebel dan tersinggung olehnya, tapi lambat laun aku mulai terbiasa hingga akhirnya segala omongannya sudah tidak pernah aku masukkan ke dalam hati.

Oh ya, walaupun banyak suku Jawa di Surabaya, tapi suku Tionghoa/ Cina pun tak kalah banyaknya disini. Kalian bisa banyak menemukan suku Tionghoa di pusat-pusat perbelanjaan yg besar, seperti TP, Pasar Atum Mall, Supermall Pakuwon, dan SUTOS. Jangan kaget kalau bertemu suku Tionghoa karena kebanyakan dari mereka suka berdandan agak menor kayak mau datang ke kondangan, dan pakaian mereka pun rata-rata sangat minim dan glamour. Memang begini lah Indonesia, banyak sekali penduduk dengan suku bangsa yang berbeda-beda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s