My DigCam

Hidup tanpa adanya kamera rasanya seperti mencuci baju tanpa detergen, kurang lengkap gitu. Tanpa adanya kamera, kita tidak bisa mengabadikan moment-moment ya telah kita lewati. Entah itu menggunakan kamera digital, kamera DSLR, ataupun kamera handphone, yang jelas secara tidak langsung kita sangat membutuhkannya, apalagi bagi para kaum-kaum yang suka narsis seperti aku. hehe..­čśÇ

Hal itu pula lah yang membuat aku dan Erik yang notabene sama-sama narsis untuk membeli kamera digital 2 tahun yang lalu, menjelang hari pernikahan kami. Ini dia kamera yang telah kami beli :

Kamera ini kami beli di Gunung Sari Intan Malang. Kenapa kami membeli kamera kok jauh banget di Malang? Soalnya saat itu kami sekalian nyebarin undangan pernikahan buat teman-teman yang ada di Malang. Karena budget kami cukup minim, akhirnya kami memutuskan membeli kamera merk  Samsung yang harganya cukup murah, yaitu 1.3 juta.

Sayangnya, saat usia kamera ini belum 1 tahun, kamera ini sempat rusak. Untung masih ada garansinya dan akhirnya bisa diperbaiki tanpa biaya.  Setelah diperbaiki memang sudah tidak pernah rusak lagi soalnya sudah dibilangin sama mbak pegawai Samsungnya kalau kamera ini tidak dipakai sebaiknya baterainya dilepas saja supaya ketika kita tak sengaja menekan tombol powernya, kameranya tidak bisa menyala.

Instruksi mbak pegawai Samsung sudah kami laksanakan, tapi entah kenapa akhir-akhir ini kamera ini masih sering trouble. Terkadang tiba-tiba hang, atau tidak mau menyala, tapi suatu saat tiba-tiba bisa nyala sendiri. ┬áAneh ya… Udah gitu, sistem fokus kamera ini juga udah gak sebagus dulu. Kalau dibuat ambil foto saat malam hari hasilnya cenderung jelek, kadang blur padahal sudah mengaktifkan flash-nya. Hasil fotonya bagus kalau saat mengambil foto itu cukup ada sinar matahari. Aneh kan? Hhmm.. rasanya ingin ganti kamera aja kalau kayak gini. Menyesal juga seh kenapa dulu membeli kamera merk Samsung yang tidak seberapa terpercaya. Tapi nasi sudah menjadi nasi goreng. Ya gimana lagi… hehe..­čśÇ

Aku dan Erik sama-sama banci foto. Terkadang kami bingung bagaimana caranya apabila di saat kami pergi berdua, kami bisa berfoto bersama. Kalaupun cara motretnya dengan memakai tangan Erik langsung diarakan ke wajah kami kan hasilnya cuma bisa ambil gambar separuh badan aja kan?  Mau minta tolong orang buat fotokan kok gak enak banget merepotkan orang lain, orang yang tak dikenal pula.

Akhirnya tercetuslah ide Erik untuk membeli sebuah tripod. Ini dia tripodnya.

Tripod ini kami beli di Pantai Photo Malang. Harganya sekitar 180ribu. Menyesalnya kami kenapa tidak sekalian membeli kamera di Pantai Photo aja ya? Pasalnya di Pantai Photo itu modelnya lebih banyak dan harganya pun lebih murah. Yaa.. gimana lagi.. Nasi sudah menjadi nasi uduk. haha…­čśÇ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s