Waduuh.. Alergi Susu Sapi

Sedikit cerita tentang kekhawatiranku beberapa minggu yang lalu. Diwajah Naya, tepatnya dipipi sebelah kanan terdapat bintil2 merah. Aku mengira kalau bintil2 itu adalah biang keringat dan benar ketika Naya imunisasi, aku bertanya kepada sang dokter, dokter pun menjawab kalau itu adalah biang keringat yang nantinya akan hilang hilang sendiri. Hatiku pun lega.

Seminggu berlalu hingga hampir 2 minggu, tetapi bintil-bintil merah itu tak kunjung hilang malah menurutku semakin banyak dan menyebar hingga dipipi sebelah kiri, dagu, atas mata, hingga tangannya. Rasa khawatir muncul lagi. Apa benar ini biang keringat? tapi kenapa lama sekali tak sembuh-sembuh. Ibuku menyarankan untuk mengoleskan tepung kanji di tempat sang biang keringat itu berada. Memang saat Naya baru lahir dulu, dikening Naya juga sempat ada biang keringat dan pemberian tepung kanji terbukti ampuh bisa menyembuhkan dalam waktu 1-2hari.

Aku mencoba mengikuti saran ibu untuk memberikan tepung kanji hingga memandikannya menggunakan lactacyd baby sesuai dengan saran para bunda-bunda digrup facebook yang aku ikuti. Ada pula yang menyarankan untuk mengoleskan minyak kelapa yang dibuat sendiri. Hampir saja, aku mengikuti saran itu juga hingga suatu ketika bintil-bintil merah itu mulai menyerang kelopak mata Naya. Panik bukan main rasanya. Se-liar itukah biang keringat?

Aku sempat curiga, apa mungkin Naya alergi susu sapi? karena kebetulan asiku kurang lancar dan Naya agak ogah-ogahan nenennya, akhirnya terpaksa selain minum asi, Naya juga minum susu formula. Aku sempat browsing mencari tau tentang alergi susu sapi dan disitu dijelaskan kalau biasanya alergi susu sapi itu turunan dari orang tuanya yang juga mengidap alergi. Dugaanku terpatahkan oleh pernyataan itu karena aku dan abi gak pernah alergi macam itu. Tapi, apa salahnya untuk periksa daripada hanya mengira-ira tanpa kepastian.

Aku pun segera menghubungi abi Erik dan memintanya untuk bisa pulang kerja lebih cepat untuk mengajaknya ke dokter anak. Kebetulan saat itu hari Sabtu dan aku kurang yakin kalau ada dokter anak yang buka dihari Sabtu. Tapi Alhamdulillah setelah menghubungi rumah sakit terdekat, ternyata masih ada dokter anak yang praktek. Aku, Abi, dan Naya pun segera menuju ke dokter itu secepat kilat untuk mengejar waktu karena 45 menit lagi jadwal praktek dokternya akan ditutup.

Tak perlu menunggu lama untuk menanti giliran Naya diperiksa dan benar ketika diperiksa sang dokter, dokter pun langsung berkata,” waah… Kanaya minum susu apa? niy alergi susu lho… susunya diganti ya.. diganti yang soya atau HA.”

“Deg…” Jantungku langsung berdegup kencang. Ternyata benar dugaanku. Selain menyuruh ganti susu, dokter pun memberikan resep obat. Obatnya bernama Apolar Desonide Cream dan Ezerra. Apolar penggunaannya dioleskan tipis diwajah Naya yang terdapat alergi, sementara Ezerra dioleskan ditangan dan kaki yang terkena alergi. Alhamdulillah, setelah pemberian obat dan ganti susu, perlahan bintil2 diwajahnya ilang dan wajahnya jadi mulus lagi. Gak hanya itu, daun telinga Naya sebelah kanan yang sempat kasar banget dari lahir jg ikut mulus lagi. Wajahnya yang merah juga udah gak merah lagi. Dulu gak sempat mikir apa-apa waktu wajahnya merah. Aku pikir, namanya bayi baru lahir kan memang kulitnya merah. Tapi sempat mikir juga waktu umur Naya udah hampir sebulan kok kulitnya masih merah aja. Dan ternyata sekarang semuanya terjawab. Kemungkinan kulitnya yg merah itu juga efek dari alergi. Buktinya sekarang udah gak merah lagi. Seneng banget. Alhamdulillah…

Penasaran dengan alergi susu sapi, aku pun browsing di google lagi untuk mencari tahu lebih lanjut. Alergi susu sapi, atau istilah kedokterannya “Dermatitis Atopi” memang rentan diderita bayi usia dibawah 2 tahun. Reaksi alergi bisa bersifat langsung ataupun tertunda. Bersifat langsung dalam artian, reaksi alergi langsung muncul beberapa menit hingga 1 jam setelah susu sapi diminum. Berbeda dengan bersifat tertunda yang reaksi alerginya muncul beberapa jam bahkan berhari-hari setelah susu sapi diminum dan baru tahu ternyata Naya tergolong reaksi alergi yang tertunda.

Gejala alergi susu bermacam-macam,diantaranya gatal-gatal dan ruam merah pada kulit, muntah, pembengkakan, dan diare disertai darah. Alhamdulillah gejalanya Naya hanya ruam merah pada kulit aja, gak sampai yang aneh-aneh lainnya. Untuk kasus bayi yang menderita alergi memang disarankan untuk berganti jenis susu formula (jika tidak minum ASI).

Alternatif susu sapi mencakup:
• formula protein kedelai – sekitar separuh anak-anak yang alergi terhadap susu sapi juga akan alergi terhadap kedelai. Susu formula kedelai tidak direkomendasikan untuk bayi di bawah 6 bulan tapi bisa dicoba pertama sebagai susu alternatif pada bayi usia di atas 6 bulan
• Formula hidrolisat ekstensif (EHF) – ini adalah susu yang telah dibuat sedemikian rupa sehingga dapat memecah sebagian besar enzim yang menyebabkan gejala alergi. Ini adalah alternatif pilihan pertama untuk bayi di bawah 6 bulan dengan alergi susu sapi. Contoh termasuk EHF Pepti Junior dan Pregestimil. Susu formula yang dihidrolisat sebagian seperti susu HA (hipoalergenik) tidak dapat diberikan pada bayi dengan alergi susu sapi.
• Formula asam amino (AAF) adalah susu yang benar-benar diuraikan dengan menghilangkan protein yang menyebabkan alergi. Ini akan diperlukan sekitar 10% dari alergi susu sapi anak-anak. Contoh formula asam amino ini adalah Neocate dan Elecare.

Sempat khawatir, apakah alergi ini akan terus diderita hingga dewasa nanti? ternyata jawabannya “tidak”. Semakin bertambah umur si anak, kekebalan tubuhnya juga semakin berkembang sehingga reaksi alergi perlahan akan hilang. Kebanyakan alergi akan hilang jika si anak berumur 1tahun ke atas, tapi banyak juga bayi yang masih berumur 6bulan keatas udah hilang alerginya. Moga-moga aja alergi Naya cepat hilang. Kasihan juga kalau ngeliat dia alergi gitu…
Get well soon, dear.. :*

Welcome to the world, dear.. :*

kanaya arsyifa putri rezyawan

kanaya arsyifa putri rezyawan

Kenalin niy anak perempuan pertamaku yang lahir di usia kehamilan 37minggu pada tgl. 1 April 2014 pukul.13.57 dengan berat badan 2,85kg dan tinggi 51cm. Bismillah.. kami beri nama KANAYA ARSYIFA PUTRI REZKYAWAN yang artinya anak perempuan dari Rezkyawan (nama belakang Erik) yang berhati mulia dan mempunyai jalan penghidupan yang tentram dan bahagia. Amin… 😀

4tahun lebih kami menantikan hadirnya buah hati kami dan akhirnya penantian kami datang juga. Alhamdulillah,, tak hentinya aku berucap syukur pada-Nya atas anugerah terindah yang telah diberikan oleh-Nya. Oh ya, sejak lahirnya Naya (nama panggilan anak kami), aku dan Erik jadi punya panggilan baru lho,, yaitu Bunda dan Abi. hehehe… Awalnya Erik sempat gak mau dipanggil Abi. Katanya panggilan Abi kayak panggilan keluarga ustadz aja, tapi begitu aku bilang kalau artis Omesh aja dipanggil abi, padahal bukan ustadz. akhirnya Erik mau juga dipanggil Abi. hehehe.. 😀

Alhamdulillah tepat aku menulis blog ini Naya udah berusia 1bulan 8hari. Tiap malam pun kami udah mulai begadang. 2hari ini malahan Naya tidurnya menjelang subuh terus. Capek dan ngantuk banget benernya, tapi kalau inget perjuangan kami mendapatkan, rasanya semua rasa lelah itu langsung hilang. Aku juga bersyukur banget, Erik mau ikut turun tangan merawat Naya. Kan ada tuh yang bapaknya sama sekali gak mau ikut ngurusin anaknya, paling cuma bantuin gendong doank. Tapi Erik gak lho.. Dia mau gantikan popoknya Naya, mau bersihin kalau Naya abis BAB, mau ikutan begadang, bahkan Erik juga yang memandikan Naya, padahal sampai detik ini aku aja belum berani mandikan Naya. hehe.. 😀

Oh ya.. Sempat khawatir niy.. beberapa hari ini Naya kena biang keringat. Lama banget gak sembuh-sembuh juga. Dulu awal-awal lahir Naya sempat kena biang keringat di keningnya. Aku kasih tepung kanji, sehari aja udah langsung ilang. Sekarang biang keringatnya udah pindah ke pipi, tangan, dan dagunya. Kasihan banget lihatnya.. Udah aku kasih tepung kanji tapi masih belum sembuh juga. Kulitnya sampai kasar gitu.. Hiks… Ternyata Naya gak betah udara panas, sama kayak abi dan bundanya. Jadinya sekarang kalau tidur dia tak kena’in kipas angin (maklum, gak punya AC). Benarnya khawatir juga kalau kena kipas angin ntar dia masuk angin,tapi gimana lagi… Gak tega liat biang keringatnya, takut tambah banyak.. Moga aja abis gini sembuh ya sayang… Amin… 🙂

Kata orang, usia bayi segini wajahnya masih berubah-ubah ya.. Awal-awal dulu banyak yang bilang mirip aku, tapi kok belakangan banyak yang bilang mirip Erik ya… HHmm… mirip siapapun yang penting sehat terus ya Naya-ku sayang..
Peluk dan cium dari bunda & abi :*

Detik-detik melahirkan

Tgl. 1 April 2014, pukul. 08.00 aku dan Erik sudah berada di RS Delta Surya Sidoarjo. Setelah mendaftar, akupun segera menuju ke ruang bersalin. Disana aku di taruh disebuah kamar. Aku mulai dipasang infus dan diambil darahnya untuk keperluan beberapa test menjelang operasi. Perawat memberitahu kalau operasi akan dilaksanakan pukul. 12.00 nanti dan aku pun disuruh puasa selama 6jam sebelum operasi. Pukul. 11.00 perawat datang untuk memasang kateter urine disaluran kencingku. Kateter itu berupa selang yang nantinya akan menampung air kencingku. Jadi aku tidak perlu ke kamar mandi lagi untuk kencing. Proses pemasangan kateter seh tidak sakit. tapi begitu udah terpasang.. hhhmm… rasanya benar-benar menyiksa. tidak bisa digambarkan bagaimana rasa tersiksanya. yang jelas benar-benar gak nyaman banget. Rasanya hampir mirip seperti anyang2en gitu lah.. Andaikan boleh gak pake kateter, aku malah lebih milih pipis di kamar mandi aja.. hiks… 😥

Pukul. 11.00 ibuku datang untuk menemaniku. Ibuku terlihat begitu tegang, padahal aku yang mau menjalani operasi malah santai-santai aja. Malahan masih sempat-sempatnya otak atik facebook di hpku. hehehe.. 😀
Waktu terus berjalan… Udah pukul.12.00 tapi perawat tak kunjung datang untuk menjemputku, pukul. 13.00 juga udah terlewati hingga akhirnya pukul. 13.30 perawat menjemputku untuk menuju ke ruang operasi.

Hatiku rasanya dag dig dug gak karuan. Pikiran kosong tapi dalam hati tak henti-hentinya aku berdoa. Tak lupa sebelum memasuki ruang operasi, aku meminta doa pada ibuku dan Erik. Semoga dilancarkan segalanya.. Amiin..

Memasuki ruang operasi, aku segera diberikan obat bius. Obat bius yang disuntikkan ke punggung. Sakitnya gak seberapa jika sambil membayangkan hadirnya sosok bayi mungil yang keluar dari rahimku nanti. Obat bius yang digunakan adalah bius lokal. Jadi yang dibius hanya bagian pinggang kebawah. Bagian pinggang ke atas masih sadar. Jadi aku masih bisa melihat dan mendengar apa yang dikatakan oleh dokter dan perawat-perawat disana.

Proses operasi berjalan sangat singkat. Setelah obat bius bereaksi, dokter tak perlu menunggu lama untuk segera melakukan operasi. Hingga akhirnya pukul. 13.57 terdengarlah suara bayi menangis yang sangat keras sekali. Rasanya ingin menangis tapi entah mengapa air mata tak bisa keluar. Dalam bibirku hanya keluar 1 kata, ALHAMDULILLAH…
Sempat terdengar suara perawat yang mengatakan bahwa bayiku seorang perempuan dan terlilit tali pusar hingga 2 lilitan, entah bagian tubuh mana yang terlilit, aku tak terpikir untuk bertanya. Yang penting, bayiku lahir dengan selamat dan sehat. Alhamdulillah Ya Allah..

Sebelum bayi dibersihkan, perawat sempat menunjukkan bayinya sebentar padaku dan aku sempat mencium pipinya.. Subhanallah.. Lengkaplah hidupku sekarang. Aku sudah menjadi seorang ibu. Walaupun aku tidak melahirkan secara normal, tapi operasi caesar pun juga butuh perjuangan menahan sakit pasca operasinya nanti. Aku tak peduli apa kata orang diluar sana yang memandang sebelah mata kalau aku memilih jalan operasi daripada normal walaupun memang masih ada peluang bagiku untuk lahiran normal. Mereka hanya tidak tau bagaimana rasanya penantian begitu lamanya kehadiran bayi ini. 4 tahun lebih aku menunggu amanah dari Allah akan hadirnya sosok mungil dari rahimku ini. Mangkanya aku dan Erik pun memutuskan jalan operasi yang resikonya bisa dibilang lebih kecil daripada lahiran normal. Memang kalau masalah pemulihan dan penyembuhan, operasi memakan waktu lebih lama daripada normal. Tapi itu gak jadi masalah bagiku. Aku bisa bersabar menantikan hadirnya malaikat kecil ini, jadi lamanya pemulihan pasca operasi rasanya gak ada apa-apanya..

Pasca operasi, aku harus menunggu sekitar 3-4jam di ruang pemulihan. Para perawat menyuruhku tidur sambil menunggu perkembangan tubuhku pasca operasi. Mata rasanya ngantuk banget, tapi entah mengapa aku tidak bisa tidur. Aku masih membayangkan bagaimana anakku.. mirip siapa dia.. apa dia sehat..apakah semuanya normal?

Perlahan reaksi bius mulai menghilang. Kaki mulai kerasa kesemutan walaupun masih berat untuk digerakkan. Perawat sempat beberapa kali mengecek pendarahan dan kontraksi rahimku. Katanya pendarahanku banyak banget. Tensi darahku juga sempat ngedrop. Hingga perawat pun beberapa kali melakukan pijatan di perutku yang rasanya aduhai sakitnya..

Alhamdulillah sekitar 4 jam berada di ruang pemulihan, akhirnya aku boleh di pindah di ruang perawatan, yaitu kamar Flamboyan. Sesaat ketika aku keluar dari ruang pemulihan, sudah ada ibuku dan Erik yang menyambutku. Ibuku langsung mencium pipiku sambil mengucapkan selamat dan mengatakan bahwa rambut anakku tebal. Erik pun langsung memegang tanganku, entah berkata apa dia saat itu aku lupa. hehehe.. 😀

Rasanya aku ingin sekali bertemu anakku lagi.. Saat aku menciumnya di ruang operasi, aku masih belum melihatnya dengan jelas. Sayangnya, bayinya ditaruh di ruang bayi. Aku baru bisa bertemu besok pukul. 08.00 sampai pukul. 12.00 . Bayinya akan di antar ke kamarku. Gak apa-apalah.. Yang penting, kata Erik bayinya sehat, semua anggota badannya lengkap dan normal. Alhamdulillah Ya Allah…

menjelang operasi masih sempatnya poto2 ^^

menjelang operasi masih sempatnya poto2 ^^

Happy Pregnancy (III) ^^

Trimester ketiga (7-9 bulan)

Agak telat benarnya nerusin tulisan niy soalnya si dedek udah lahir.. hehe.. tapi kalau nulisnya cuma berhenti sampe trimester kedua kan kurang afdol ya.. jadi aku lanjutin aja ya nulisnya..

Alhamdulillah sudah memasuki trimester ketiga. Agak lega memasuki trimester ini soalnya si dedek pasti udah makin gede di dalam n anggota tubuhnya juga udah dikatakan lengkap. hanya butuh penyempurnaan untuk anggota tubuh lainnya. walaupun begitu, ada sedikit kekhawatiran juga. takut lahir prematur. soalnya aku banyak membaca dan mencari tahu info tentang kelahiran katanya baby bisa dikatakan sudah matang untuk dilahirkan kalau udah memasuki usia kehamilan 37-40 minggu. kalau kurang dari usia kehamilan 37 minggu dibilangnya prematur karena paru-paru nya belum matang benar. Rata-rata kelahiran prematur biasanya di dahului dengan KPD (Ketuban Pecah Dini) atau bisa ketuban rembes. Bedanya apa?? Kalau KPD, air ketuban yang keluar jumlahnya langsung banyak, sehingga si baby harus segera dilahirkan sebelum air ketuban didalam rahim habis. Nah, kalau ketuban rembes itu air ketuban yang keluar hanya sedikit. kadang orang awam masih rancu membedakan antara air ketuban rembes dengan keputihan. Ada kasus seorang ibu yang gak sadar kalau air ketubannya rembes, dipikir hanya keputihan saja (maklum, kalau bumil emang cenderung bakal mengalami keputihan. tapi selama keputihannya tidak berbau n tidak bikin gatal, itu wajar). Jadi si ibu itu hanya santai saja, hingga suatu saat terdeteksi bahwa air ketuban dalam rahimnya tinggal sedikit dan mau gak mau juga si baby harus segera dilahirkan supaya selamat. Katanya seh untuk mendeteksi cairan yang keluar itu air ketuban atau keputihan bisa dicek memakai kertas lakmus. jadi kalau kertas lakmus berubah warna menjadi biru berarti itu air ketuban.

Sempat khawatir juga kalau tau tentang KPD ataupun ketuban rembes. apalagi makin gede perutku makin sering aja aku mengalami keputihan. tapi karena aku rajin kontrol USG ke dokter, aku yakin Insyaallah kalaupun hal itu terjadi bisa cepat terdeteksi sejak awal. jadi penanganannya pun gak sampai terlambat karena kalau terlambat sedikit aja udah mengancam jiwa si kecil. Naudzubillah..

Oh ya, memasuki trimester ketiga ini gerakan si kecil makin aktif, apalagi kalau malam hari. Haduuh… sampai bikin aku gak bisa tidur. gerakan sikecil udah gak cuma berupa tendangan aja, kadang sampai membentuk gelombang gitu. entah sedang apa si dedek didalam perut bunda. hehehe.. Saking aktifnya gerakannya, kadang tendangannya sering mengenai ulu hati dan tulang rusuk hingga rasanya ngiluuu banget… Pinggang dan punggung pun makin kerasa sakit dan pegel-pegel gak karuan sampai erik pun berganti profesi sebagai “tukang pijat pribadiku”. hihihi.. 😀

Badan juga makin terasa berat. Nafas sering ngos-ngosan, apalagi kalau di pakai jalan-jalan. mesti lebih banyak istirahatnya daripada jalan kakinya. hehehe… Tidur pun udah mulai gak nyenyak soalnya posisi tidur pun harus diatur. Posisi tidur yang paling baik untuk bumil harus miring kiri karena diposisi inilah asupan oksigen yang diterima si dedek lebih besar. kalaupun pegel, boleh berpindah posisi miring kanan. tapi dianjurkan jangan lama-lama, hanya sebentar saja, kemudian balik lagi ke posisi miring kiri. Oh ya, tidak dianjurkan tidur telentang karena bisa menekan pembuluh aorta/vena si ibu yang dampaknya bisa sangat buruk bagi si ibu. Lagian tidur telentang juga gak nyaman soalnya bikin sesak nafas.

Dari awal, aku mendapat dukungan dari Erik dan ibuku untuk melahirkan secara caesar. Jujur, dari hati yang terdalam sebenarnya pingin banget bisa lahiran normal. tapi karena ada kendala ambeien yang kata dokterku kalau lahiran normal bisa makin gede. aku pun juga gak pede bisa melewati lahir normal soalnya aku hampir gak pernah jalan-jalan pagi, dan gak pernah ikut senam hamil. akhirnya, aku pun menyetujui untuk lahiran caesar.

Hpl-ku (Hari Perkiraan Lahir) sebenarnya tanggal 24 April 2014. Kalau caesar kan katanya bisa milih tanggal tuh. Aku dan erik awalnya rencananya pingin lahiran tanggal 14 April. biar tanggal cantik gitu maksudnya (14414). Tapi karena aku rasa terlalu dekat dengan Hpl, dikhawatirkan udah terjadi kontraksi, jadi aku dan Erik memajukan tanggal lahiran menjadi tanggal. 4 April 2014 (4414). Setelah dikonsultasikan ke dokterku, eehh ternyata tgl. 2-11 april, dokternya pergi ke luar negeri. jadi dokterku menyarankan lahiran tgl. 1 April 2014 aja, kan masih tergolong tgl cantik tuh (1414). Ya udah, akhirnya aku dan Erik menyetujuinya. Jadilah, tanggal, 1 April “deal” sebagai hari lahiranku.

Bismillah.. Semoga proses operasi caesarnya berjalan lancar tanpa ada hambatan sedikitpun. Ibu dan baby sehat dan selamat. Amin Ya Robbalalamin..

Happy Pregnancy (II) ^^

Trimester kedua (4-6 bulan)

Menginjak trimester kedua ini aku sudah tidak bekerja lagi. Alhamdulillah aku bisa terbebas dari belenggu “penjara” itu. Berhubung aku sudah tidak bekerja lagi, aku meminta ijin pada Erik untuk sementara tinggal di Sidoarjo hingga kelahiran nanti. Dengan berbagai macam pertimbangan, erik pun menyetujuinya. Dia rela berangkat n pulang kerja pp Sidoarjo-Pasuruan lho.. suamiku memang hebaat deh.. 😀

Tepat usia kehamilanku 4 bulan, aku mengadakan acara tingkepan di rumah Sidoarjo. Walaupun dalam agama tidak diwajibkan melaksanakan tingkepan, tapi di Al-qur’an tertulis kalau usia kehamilan 4 bulan itu lah roh mulai ditiupkan pada janin. Ya niatku sebagai rasa syukur aja atas segala kesehatan dan anugerah terindah ini. Alhamdulillah… Oh ya, saat acara tingkepan berlangsung, banyak banget ibu-ibu yang komentar karena perutku belum keliatan gede. Sempat khawatir juga dengan perkataan ibu-ibu itu. Tapi ibuku bilang usia hamil 4bln memang rata-rata belum kelihatan, apalagi badanku juga termasuk kategori kecil. Jadi agak lega deh.. hehehe..

Ditrimester kedua ini aku masih saja sering mual dan muntah. Apalagi kalau pas gosok gigi dan keramas (apa hubungannya ya.. hihihi). Tapi emang beneran lho.. kalau tiap rambutku aku basahi mesti ujung2nya mual dan muntah deh.. jadi kadang males banget kalau mau keramas. Tapi ya mau gak mau tetap harus keramas. Risih juga kan kalau lihat rambut lepek berminyak gitu.. hehe..

Alhamdulillah menginjak usia kehamilan 5 bulan, aku udah jarang muntah lagi. Tapi pernah suatu hari, di saat malam yang gelap dan aku tidur sendirian (Erik lagi masuk kerja shift 3), aku muntah parah banget. Dalam semalam aku sampai muntah 5x lho..oh ya, disertai juga diare 2x hingga badan lemas tak berdaya. Orang-orang rumah juga udah tidur semua. Keesokan harinya aku langsung ke dokter. Dokter memberiku obat dan dokter pun berpesan,kalau 1x 24jam obatnya tidak bereaksi, dalam arti aku tetap muntah n diare, mau gak mau aku harus opname untuk di infus agar tidak kehilangan banyak cairan. Sempat shock banget saat itu.. Usut punya usut kayaknya semua ini terjadi gara-gara aku makan lontong lodeh di pinggir jalan. Kata ibuku, kemungkinan badanku gak tawar dengan petis kupangnya itu soalnya kapan hari pak dhe ku juga sempat mengalaminya. Aku takut kenapa-kenapa dengan kandunganku. Tapi Alhamdulillah.. esoknya kondisiku sudah membaik.. benar-benar ada aja ya cobaan bumil.. apapun cobaan itu dinikmati dan disyukuri aja..

Oh ya, perutku udah mulai membesar lho saat usia kandungan 5 bulan. Aku juga udah mulai merasakan tendangan si kecil dari dalam perut. Subhanallah… begini ya rasanya jadi bumil.. tiap dedek nendang, rasanya pingin nangis saking terharunya dengan karunia Allah ini.. Erik pun mulai sering memegang perutku. Merasakan tiap-tiap tendangan si kecil. Terkadang Erik mengajaknya ngobrol. Dedek pun kadang malu-malu klo di pegang Erik langsung diam. Subhanallah,, Maha Besar Allah.. takjub atas segala yang diciptakan-Nya…

Ngidam? Sebenarnya ngidam itu apa sih? Banyak teman-teman yang bertanya, aku ngidam apa? Aku sendiri bingung.. Gak bisa membedakan antara ngidam dan “pengen”. Hehehe.. Sering sih aku tiba-tiba ingin makan apa, tapi aku menganggapnya bukan ngidam, melainkan hanya keinginan hati semata. Tapi pernah suatu ketika, saat pukul.o1.00 dini hari tiba-tiba aku ingin makan burger. Untungnya di Sidoarjo tercinta ini ada Mc Donalds yang buka 24jam. Akhirnya Erik pun langsung meluncur kesana deh.. hehehe.. 😀

Memasuki usia kehamilan 6 bulan, aku mulai merasakan sakit pinggang. Super banget deh rasa sakitnya. Nikmatnya jadi bumil.. Tapi aku masih sangat bersyukur karena kehamilanku tergolong “kehamilan cantik” (narsis banget ya.. hihii). Kenapa aku bilang begitu? Tentu aja ada dasarnya donk.. Pasalnya banyak banget orang yang bilang kalau sejak hamil, aku makin kelihatan cantik n bersih. Mereka semua menebak kalau baby-ku pasti cewek. Dan memang prediksi dokter dari usia kehamilanku 4bulan,jenis kelamin baby-ku itu cewek. Seneng bukan main deh aku.. Dari dulu sebenarnya aku udah sering membayangkan punya baby cewek pasti lucu banget. Baju-bajunya banyak yang unyu-unyu, terus rambutnya di kasih pita gitu.. hihi.. Tapi apapun jenis kelamin baby-ku nanti,, cewek atau cowok, aku gak peduli, yang penting sehat, panjang umur, dan jadi anak yang sholeh/sholehah. Amin..

Happy Pregnancy (I) ^^

Saking senengnya bisa ngerasain jadi bumil (ibu hamil). Aku jadi pingin banyak cerita niy tentang pengalaman kehamilanku. Seru dan senengnya jadi bumil, walaupun terkadang ada juga rasa ga nyaman yg dirasakan, terutama dari kondisi fisik yang mengalami banyak perubahan. Tapi semuanya patut untuk disyukuri. Moga aja dengan ceritaku ini bisa jadi inspirasi buat para bumil2 lain 

Trimester Pertama (1-3 bulan)
Inilah trimester terberat yang aku rasakan. Saat menjalani trimester pertama ini, kondisiku masih bekerja di Bangil yang jaraknya cukup jauh dari rumahku (perjalanan kurang lebih 30-45menit) dan aku melaluinya dengan naik motor sendiri dengan kondisi jalanan yang sangat jelek. Tapi Alhamdulillah, Erik masih mau mengantarkan aku kerja selama dia bisa mengantarkan. Bener2 suami siaga.. 😀

Ketika mengetahui dari tespack kalau aku positif hamil, saat itu pula aku langsung datang ke dokter untuk USG. Sempat bingung aku harus ke dokter siapa (maklum, dokter kandungan di Pasuruan sangat langkah sekali). Kebetulan ada teman kerjaku yang juga lagi hamil. Akupun meminta pendapatnya. Dia menyarankan aku untuk datang ke dokter langganannya (sebut aja dokter A). Malam hari sepulang kerja, aku langsung datang ke tempat praktek dr. A, tentunya dengan ditemani Erik. Dag dig dug rasanya hatiku saat itu..

Berhubung dokter kandungan memang sangat langkah, antriannya pun gak heran kalau panjaaangg banget.. Setelah menunggu kurang lebih hampir 3jam. Tibalah saatnya giliranku periksa dan dr. A pun mulai melakukan usg. Begini lah percakapanku dengan dr. A :
• Dr A : Ibu sudah melakukan tespack?
• Aku : sudah, dok..
• Dr. A : hasilnya apa bu?
• Aku : muncul 2 garis dok,, positif,,
• Dr. A : Hhhmm,, kok di usg belum kelihatan kantong rahimnya ya bu..
• Aku : tapi saya sudah tespack sampe 3x lho dok.. positif terus..
• Dr. A : Begini saja.. saya kasih surat pengantar buat ke laboratorium ya bu,, coba ibu test lagi disana, apa benar2 positif
• Aku : Iya dok.. (dalam hati berkata, ini dokter kok kayaknya gak percaya banget ya kalau memang hasilnya positif)
Kemudian, akupun segera pergi ke laboratorium itu.. Tidak lama sekitar 15menit sudah muncul hasilnya dan memang dinyatakan benar-benar positif. Akupun segera kembali lagi ke Dr. A dan terjadilah percakapan lagi sbb :
• Aku : Dok,, ini hasilnya..
• Dr. A : hhmm,, iya,, benar positif ya,, tapi kok di usg belum keliatan kantong rahimnya ya.. jangan-jangan hamil di luar kandungan

Bagai disambar petir rasanya mendengar ucapan dokter itu. Naudzubillah.. jangan sampai dugaan dr. A itu benar. Hati campur aduk rasanya antara sedih dan sebel juga sama dokter itu. Kok bisa-bisanya langsung memvonis seperti itu sampai bikin hatiku drop.

Sesampai di rumah, aku langsung menangis. Ya Allah.. sudah begitu lama aku tidak melihat penampakan 2 garis di tespackku, tapi kenapa begitu muncul 2 garis itu, ada vonis menyeramkan seperti ini. Semalaman aku menangis, Erik mencoba menghibur dan memelukku, serta meyakinkanku kalau dr. A itu manusia biasa yang bisa juga berbuat salah. Memang benar kata Erik, tapi aku tidak menggubrisnya. Aku hanya bisa menangis, menangis, dan menangis. Hingga akhirnya Erikpun berkata,” aku lho gak percaya sama dr. A. Lihat aja alat usg nya tadi udah tua kayak orangnya (dr. A memang agak tua, mungkin umurnya sudah 50th ke atas). Aku baru percaya kalau kita coba periksa ke dokter lain. Apa perlu besok kita ke Sidoarjo aja? Dokter di Sidoarjo kan bagus-bagus, alat usgnya juga lebih terpercaya.”

Dari perkataan Erik tadi, aku langsung terdiam dan berpikir, mungkin benar apa kata Erik dan semoga memang benar. Lantas akupun berkata,”ya udah Erik.. besok kita coba datang ke dokter lain. Tapi kayaknya gak mungkin kalau besok kita ke Sidoarjo soalnya besok kan aku kerja dan aku belum dapat hak cuti. Besok kita periksa ke dr. Wayan aja.. (salah satu dokter lain di Pasuruan yang umurnya lebih muda. Mungkin sekitar 35-40th).”

Keesokan harinya, aku periksa ke dr.wayan dan sekali lagi harus melalui antrian panjang, tapi sore hari Erik sudah aku suruh daftar. Jadi malamnya aku baru datang ke tempat prakteknya. Sehingga aku gak perlu menunggu terlalu lama. Sekitar 1jam aku menunggu, mulutku tak henti-hentinya berdoa meminta yang terbaik pada Allah dan berharap bahwa vonis dr.A itu memang salah. Akhirnya tiba giliranku periksa, dr. Wayan mulai melakukan usg.. Alhamdulillah ya Allah.. ternyata di monitor usg nya dr. Wayan nampak ada bulatan kecil, yakni kantong rahim yang menunjukkan kalau aku benar-benar hamil dan tentunya tidak diluar kandungan seperti kata dr.A. Tak henti-hentinya aku berucap syukur pada Allah. Ternyata vonis dr.A memang salah. Alhamdulillah…

Dr. Wayan pun berkata kalau memang kantong rahimnya masih sangat kecil. Saat itu perkiraan usia kehamilannya masih sekitar 5minggu. Aku pun diberi vitamin dan obat penguat oleh dr.Wayan dan disuruh control 2 minggu lagi.
Saat trimester pertama inilah saat-saat paling mendebarkan dalam hidupku. Maklum, aku masih trauma jika mengingat keguguranku dulu disaat masih trimester pertama. Aku takut kejadian itu terulang kembali. Tapi Bismillah,, aku pasrahkan semua pada Allah. Semoga kejadian kelam itu tidak terulang kembali. Amiin… Oh ya, saking takutnya keguguran karena BO lagi, aku pun sempat bernazar kalau aku ingin datang ke Panti Asuhan dan memberikan santunan padanya secara langsung. Semoga Allah menerima nazarku ini. Amin..

Minggu demi minggu ditrimester pertama aku lalui. Tiap hari (apalagi saat jadwal control), aku tidak pernah berhenti berdoa. Trimester pertama aku lewati dengan cukup berat karena pekerjaanku menuntut banyak padaku. Tuntutan tenaga dan waktu. Pulang kerja selalu larut malam dan saat libur pun masih aja ada kerjaan marketingan, sehingga fisik sempat drop. Hampir 1 bulan aku menderita flu berat. Pilek dan batuk parah hingga suaraku sempat habis, ditambah berat badanku juga turun 2kg karena setiap hari aku selalu muntah-muntah. Mau minum obat juga bingung minum obat apa. Bumil kan gak boleh minum obat sembarangan ya.. Awalnya tidak aku gubris penyakitku ini, aku berpikir mungkin bisa sembuh sendiri. Aku hanya sering minum air putih hangat aja. Hingga akhirnya suatu malam, aku tergolek lemas tak berdaya. Badanku terasa hangat, muka pucat, dan pusingnya minta ampun. Erik pun sempat bingung mau membawaku ke dokter mana. Akhirnya, akupun meminta anterin ke bidan dekat rumah aja. Di bidan, aku sempat diperiksa dan bidan pun lebih memfokuskan kondisi badanku yang drop ini, sehingga bidan pun menawarkan suntikan agar kondisiku cepat membaik. Saat itu aku langsung meng-iya-i. padahal biasanya aku paling takut dengan jarum suntik. Tapi aku berpikir kalau aku harus membuang jauh-jauh ketakutanku ini demi aku dan janin dalam kandunganku. Alhamdulillah, keesokan harinya keadaanku membaik walaupun batuk dan suaraku msh serak-serak sexy. Hehehe… 😀

Di akhir trimester pertama ini, aku semakin gak kuat untuk bekerja. Pasalnya ada aturan baru di tempat kerjaku, peraturan yang benar-benar “menyiksa” karyawannya. Kondisi perusahaan saat itu memang lagi menurun sehingga karyawannya di wajibkan tiap sore hari melakukan kegiatan marketingan. Belum lagi tiap hari sabtu dan minggu juga ada marketingan. Lha terus kapan aku istirahatnya?? Sempat ada rasa amarah pada perusahaan tempatku bekerja. Kok tega sekali ya ada aturan seperti ini dan karyawannya pun diwajibkan melakukan kegiatan itu dengan dasar “loyalitas”. Tau kan makna dari loyalitas?? Yupp,, bener banget,, artinya melakukannya dengan sukarela alias gretongan gitu.. jadinya karyawan tidak diberi upah apa2 untuk melakukan marketingan itu.. kalau hari sabtu atau minggu kadang diberi makan doank.. maaf ya.. kalau untuk makan aja, aku juga bisa beli sendiri. Wong gak nyampe Rp.10.000 ae lho…

Sempat ada beberapa karyawan yang protes dengan aturan baru ini, tapi pimpinan meyakinkan kalau aturan ini hanya berlaku untuk 1 bulan saja, selanjutnya akan dihapuskan. Oke lah.. aku mencoba menjalani aturan baru ini dan menguatkan diriku dan janin dalam kandunganku. Jika rasa lelah datang, aku selalu berkata pada diri sendiri,” tenang lia.. harus kuat.. Cuma 1 bulan aja kok..”

Tak terasa 1 bulan berlalu dan ternyata perkataan pimpinan omong kosong belaka. Aturan itu tetap berjalan. Saat itu lah, amarahku langsung meledak-ledak rasanya. Aku pun bertekat untuk mengundurkan diri dari perusahaan gak beres itu. Erik pun mendukung niatku karena kasihan melihat kondisiku yang memang kayak “kerja rodi” itu. Apalagi aku juga lagi hamil. Aku dan Erik gak mau sampai terjadi hal buruk pada janin dalam kandunganku. Udah 3 tahun lebih kami menantikan kehamilan ini. Kami gak mau kejadian buruk menimpah kehamilanku lagi. Naudzubillah…

Alhamdulillah… trimester pertama berakhir bersamaan dengan pengajuan surat pengunduran diriku. Untuk sementara, aku diungsikan Erik ke rumah orang tuaku di Sidoarjo demi ketenangan hatiku dan memfokuskan diri pada kehamilanku. Sehat-sehat terus ya, nak… 

Journey to be (+) ^^

Tak terasa sudah 3tahun lebih aku membina rumah tangga dengan Erik, dan saat-saat yang menjadi beban adalah ketika orang-orang mulai menanyakan momongan kepada kami. Sempat gondok juga kalau pas kumpul-kumpul keluarga,terutama ketika hari raya, selalu aja momongan yang belum kunjung datang yg jadi topic pembahasan. Apalagi masku yang baru aja menikah udah langsung berhasil aja membuat istrinya hamil. Tetangga-tetangga pun mulai berkomentar,”Wah…adiknya dibalap rek..kapan niy adiknya nyusul hamil?” Sebel banget kalau ada orang yang bilang gitu, emangnya aku bisa nentukan kapan aku bisa hamil? Kan semua itu Allah yang udah menentukan.. Huuuhh…
Berbagai macam upaya dan doa selalu menyertai kami. Usaha yang kami lakukan pun tidak hanya dari segi medis,tapi juga melalui alternative. Sejak aku keguguran bulan Oktober 2010 lalu, memang belum ada tanda-tanda kehamilan lagi. Memang aku sering banget telat haid,kadang hingga sampai 3bulan aku tidak haid,tapi ternyata itu bukanlah tanda-tanda kehamilan.

Aku sampai bela-belain resign dari tempat kerjaku dan pindah ke Pasuruan dengan harapan momongan itu akan segera datang soalnya ada orang yang bilang kalau kemungkinan aku belum hamil-hamil juga karena capek bekerja. Satu tahun aku lewati tanpa bekerja,tapi tetap aja momongan tak kunjung datang. Akhirnya,aku pun memutuskan untuk mencari pekerjaan lagi dan aku diterima bekerja di Bangil yang jaraknya cukup jauh dari rumahku. Pekerjaan ini aku jalani dan aku pun mulai pasrah pada Allah. Beberapa bulan aku bekerja di Bangil ini, aku semakin merasa pesimis masalah momongan. Pasalnya,ditempat kerjaku ini bisa dibilang seperti “kerja rodi”. Pulangnya selalu malam, dan terkadang hari libur pun harus masuk untuk kegiatan marketing. Aku berpikir,”dulu kerja di Sidoarjo yang bisa dibilang sangat santai aja,aku belum bisa hamil,apalagi kerja disini yang sangat-sangat membuat aku lelah tak berdaya”, dan akhirnya akupun hanya bisa berdoa aja.

Bulan berganti bulan aku menjalani “kerja rodi” dan aku mulai gak kerasan. Gimana bisa kerasan, kerjanya itu lho beda 180 derajat dengan pekerjaanku yang dulu. Sebenarnya masalah pekerjaannya seh gak berat, tapi yang masalah itu jam kerjanya yang terlalu “over” tanpa ada imbalan yang sepadan, itulah yang bikin hati gak ikhlas menjalaninya, raga terasa disiksa,tapi hasil yang didapat gak seberapa.

6 bulan berlalu sejak aku bekerja disana. Saat itulah doa dan harapanku selama ini terjawab sudah. Allah telah memberikan kabar terindah dalam hidupku. Alhamdulillah, hasil testpack menyatakan positif. Sempat gak percaya dan akupun melakukan test berulang- ulang kali sebelum aku memberitahu Erik kabar gembira ini dan berkali-kali juga hasil testnya menyatakan (+). Alhamdulillaahh… Tak henti-hentinya aku berucap syukur pada-Nya atas amanah yang telah diberikan-Nya. Bulan Agustus 2013 (lupa tanggal berapa), aku memberitahu kejutan itu pada Erik saat dia baru pulang kerja. Aku melihat binar-binar dimata Erik yang menunjukkan betapa bahagianya dia. Saat itu pula dia langsung memelukku. Kami pun hampir menangis berjamaah saking terharunya. Hehe… 😀

Alhamdulillah ya Allah atas anugerah terindah yang Engkau berikan pada kami. Kami akan menjaga sebaik mungkin amanah dari-Mu ini ya Allah.. Semoga dedek bayinya sehat terus dan lahir dengan selamat, dan semoga kami bisa menjadi orang tua yang baik dan bisa menuntun anak kami sesuai dengan kaidah agama Islam. Amien3x ya Robbalalamin… 

Oh ya,berikut record perjalanan ikhtiyar kami dari awal menikah hingga berhasil (+) :
• 6 Februari 2010 = Lia & Erik dinyatakan SAH oleh penghulu dan para saksi. Alhamdulillah 😀
• Bulan April s.d Juli 2010 mulai menjalani program hamil di Dr. Hud (RS. Delta Surya Sidoarjo). Terapinya minum obat profertil (semacam obat penyubur) selama 3 siklus haid yang diminum pas datangnya haid aja, tepatnya haid hari ke-3 hingga haid ke-7.
• Bulan Agustus 2010 berhasil hamil. Alhamdulillah… 😀
• Bulan Oktober 2010, aku mengalami keguguran karena janin dinyatakan tidak berkembang (blighted ovum) dan harus dikuret di RS. Mitra Keluarga Waru oleh Dr. Yunanto. Saat-saat inilah Erik benar-benar jadi penguatku soalnya seharian aku nangis terus 
• Bulan November 2010 s.d Januari 2011 pasca kuret tidak diperbolehkan Dr. Yunanto untuk hamil lagi demi pemulihan kondisi rahim. Harus sabar niy..
• Bulan Februari 2011 mulai program hamil lagi, tapi berganti dokter ke Dr. Masnunah (RS. Siti Hajar Sidoarjo). Aku dikasih obat hormone cyclo progynova soalnya aku mengeluh kalau haidku tidak teratur. Jadi sebelum dikasih obat penyubur harus dikasih obat hormone dulu selama 3 siklus haid.
• Sekitar bulan Maret 2011, aku dibelikan papa mertuaku jamu di Ir. Juanda untuk mengatasi toksoplasma. Maklum, salah satu penyebab janinku tidak berkembang kemungkinan salah satunya karena toksoplasma, walaupun kata Dr.Yunanto hasil laboratorium untuk test toksoplasmaku itu negative. Kata Ir. Juanda, biasanya pasiennya yang susah hamil,terus terapi minum jamu ini minimal 4bulan bisa langsung hamil. Benernya pas itu, aku pingin banget terapi jamu itu, tapi mengingat harga jamunya mahal banget. Saat itu harga 1 botol jamunya 750ribu + 1 botol madu 100ribu. Jamu 1 botol jamu isinya 1liter. Cara minumnya terlebih dahulu 1 liter jamu itu dipindah jadi 2 botol,masing-masing di isi 500ml jamu dengan dicampur masing-masing 500ml air putih. Jadi ntar racikan jamunya jadi 2 botol gitu. Nah, tiap minum dicampur madu 1-2 sendok. 2 liter botol jamu itu harus diminum pasutri,jadi gak Cuma si istri doank,tapi si suami juga wajib minum. 2 liter botol untuk pasutri harus habis selama 2minggu. Jadi bayangin aja, berapa budget yang harus aku siapin untuk beli jamu itu. Paling tidak kan 1bulan butuh budget 1,7juta. Duit sapa booo’’… hahaa… jadi aq gak menjalani terapi itu, aku Cuma abisin jamu yang dari papa mertua, abis itu aku udah gak beli lagi deh,. Hehe..
• Sekitar pertengahan tahun 2011 (lupa bulan apa), aku disarankan ibuku pijet perut gitu. Kata orang yg mijet seh, posisi rahimku agak miring atau gimana gitu… lupa deh.. pokoknya pas itu dipijet dan dibenerin gitu. Sumpah sakiiitt banget boo’… Abis dipijet terus dikasih resep beberapa bahan herbal yang susah banget nyarinya. Tapi aku gak ikutan nyari seh, tepatnya ibuku yang nyarikan. Lupa bahan-bahannya apa, pkoknya kalau gak salah ada kayu manis, sirih, terus batang kayu jati yg dibakar atau apaaa gitu… Semuanya ibuku yang mencarikan dan membuatkannya untukku. So sweet kan?? Saking pinginnya punya cucu tuh… hehe.. :D. Hasil olahannya kayak jadi jamu gitu dan rasanya dijamin gak enak. Hahaha.. tapi tetep aja aku minum. Namanya juga ikhtiyar.. 😀
• Bulan Januari 2012, aku berhenti bekerja di Sidoarjo dan pindah ke Pasuruan dengan harapan bisa segera dapat momongan. Bismillah… 
• Sekitar bulan Mei s.d Agustus 2012, aku menjalani program hamil lagi ke dr. Wayan (Rumah bersalin Estining Pasuruan). Aku dikasih obat profertil lagi.
• Sekitar akhir bulan Agustus 2012, sisa obat yang dari Dr. Wayan tidak aku minum lagi soalnya aku disaranin temannya Erik untuk datang ke semacam alternative di Pasuruan pelosok gitu.. Orang yg kasih terapi udah tua banget, kami memanggilnya “mbok “. Orangnya gak bisa ngomong bahasa Indonesia maupun Jawa. Bisanya Cuma ngomong bahasa Madura. Akhirnya terpaksa kami ngerepotin temannya Erik dengan mengajaknya ikut menemani kami saat terapi guna men-translate bahasa Madura si mbok itu. Hehe.. 😀 Terapinya berupa dipijet dibagian punggung dan perut. Setelah itu aku di suruh minum air putih yang katanya sudah didoain gitu.. Aku dikasih resep yang harus diminum tiap hari, yakni ketimun dan kunyit diparut, terus diperas. Terus air perasannya dikasih air mentah 3 sendok. Setelah itu diminum deh.. Gak enak banget rasanya dan males banget minumnya, tapi berhubung Erik udah susah payah memarut bahan-bahannya untukku. Jadi gak mungkin aku mengecewakannya kan.. 😀
• Sekitar bulan Oktober 2012, disaranin ibuku datang ke kyai di daerah dekat Pasar ikan Sidoarjo gitu.. kyainya ngasih aku minum air putih yang udah di doain katanya. Terus terapinya di rumah aku dan Erik disuruh baca surat Al-Fatihah, Shalawat Nariyah, dan surat At-Thoriq masing-masing sebanyak 41 kali setiap harinya.
• Bulan Februari 2013, aku berhenti ikhtiyar dan mulai bekerja lagi di Bangil. Saat itulah, aku hanya mengandalkan doa kepada Allah SWT.
• Bulan Juni 2013, aku iseng-iseng minum obat profertil (sisa obat dari Dr.Wayan). Berhubung aku udah gak asing dengan obat itu, jadi aku udah tau bener kalau obatnya itu diminum saat haid hari-3.
• Bulan Juli 2013, aku masih haid, tapi tumben haidku kok teratur padahal biasanya sampai berbulan-bulan selalu telat haid.
• Bulan Agustus 2013, aku telat haid. Aku berpikir mungkin emang telat seperti biasanya. Tapi anehnya ada sedikit keganjalan dalam diriku, dadaku terasa sakit seperti mau haid tapi haid tak kunjung datang. Terus aku juga udah mulai ngerasa mual. Saat itulah akhirnya aku memberanikan diri membuka lemari yang isinya koleksi testpack-ku jaman dulu (maklum,dulu aku pernah beli testpack banyak banget, jadi tiap telat haid biar gak bolak-balik beli, tapi sejak hasilnya negative terus,aku jadi mulai menyimpan rapat si testpack itu). Alhamdulillah.. hasil testpack positif.. Yipiiii… Saat itu koleksi testpack tinggal 3 bungkus. Jadinya dalam 3 hari aku test terus untuk meyakinkan diriku sendiri sebelum akhirnya aku memberitahukan kabar gembira ini pada Erik.. hehe.. 😀 . Aku menganggap hal ini adalah berkah lebaran tahun ini karena kabar gembira ini kami tahu pasca lebaran.. Tak henti-hentinya aku mengucapkan Alhamdulillah… 

Alhamdulillah.. Sekarang usia kehamilanku menginjak 36minggu. Insyaallah minggu depan aku akan melahirkan secara Caesar (setelah berbagai macam pertimbangan). Ya Allah berikanlah kelancaran pada proses kelahiranku nanti Ya Allah.. berikanlah kesehatan n keselamatan padaku dan bayiku. Serta berikanlah panjang umur dan kesempurnaan pada bayiku tanpa kekurangan satu apapun. Dan jadikanlah anakku nanti menjadi anak yg sholeh/sholehah serta selalu berada pada jalan-Mu ya Allah. Amiin ya Robbalalamin… ^^

DSC_0636cabecabean1